Kamis, 22 Maret 2012

PENGENALAN ALAT LABORATORIUM


LAPORAN PRATIKUM ORGANISME TANAH
PENGENALAN ALA-ALAT LABORATORIUM



IBRAHIM WAHD
05101007120
C










ASISTEN :         1. DESTARIUS SAPUTRA
                             2. DESINTHA VERONIKA TARIGAN
                             3. GUSTI ADITYA ANDIKA
                             4. KARTIKA
                             5. DESFREDO FERYADI
                             6. JUNINDAH Z SIRAIT


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS INDRALAYA

INDRALAYA
2011

I.              PENDAHULUAN




A.      Latar Belakang
Dalam dunia kimia, kita tidak akan terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan zat-zat yang ada di dalamnya, yaitu zat kimia, dimana zat tersebut mengandung tingkat keracunan tertentu serta memiliki berbagai macam kegunaan. Dari kondisi seperti itu, maka perlulah adanya pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan untuk itu. Dan untuk mendapatkan pengetahuan serta kemampuan tersebut perlu adanya kegiatan seperti praktikum untuk mengidentifikasi apakah zat itu beracun atau tidak, berguna atau tidak, dan sebagainya.
Seperti yang diketahui, sebuah praktikum itu tentunya harus menggunakan alat-alat laboratorium guna mendukung jalannya kegiatan praktikum tersebut. Dimana tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan alat-alat tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk itu. Sebab alat-alat tersebut memiliki prosedur-prosedur dalam penggunaannya.
Maka dari itu, pengenalan alat-alat laboratorium oleh praktikan dirasa penting agar sebuah praktikum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Namun tidak hanya dikenal begitu saja, praktikanpun seyogyanya mesti pula mengetahui fungsi dari masing-masing alat-alat tersebut.



B.       Tujuan
Tujuan dari pengenalan alat laboratorium ini adalah agar mahasiswa mengenal dan mengetahui fungsi dari tiap-tiap alat laboratorium




II.      TINJAUAN PUSTAKA




Seperti yang telah dijelaskan, bahwa teori pengenalan alat-alat laboratorium bertujuan untuk membuat praktikan mengetahui fungsi atau kegunaan alat-alat laboratorium, oleh karena itu, fungsi daripada tiap-tiap alat akan dijelaskan dengan tujuan agar praktikan dapat memahami secara jelas kegunaan alat-alat laboratorium yang akan dipakai. Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat tersebut, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer, hygrometer, spektrofotometer, dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph, barograph (Moningka, 2008).
Dari uraian tersebut, tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan (Moningka, 2008).
Penggunaan beberapa alat gelas dengan tepat penting untuk diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Kesalahan dalam penggunaan alat-alat ini dapat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh. Oleh karena itu harus diberikan pelatihan tentang penggunaan alat-alat tersebut.
Penggunaan alat-alat gelas tersebut haruslah sesuai dengan fungsinya agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan tepat. Apabila terjadi suatu kesalahan atau kekeliruan dalam penggunaannya akan mempengaruhi hasil yang diperoleh. Ada beberapa macam alat gelas yang dipakai di laboratorium, antara lain: gelas piala (beker gelas), erlenmeyer, gelas ukur, botol, pipet, corong, tabung reaksi, gelas objek dan gelas penutup, cawan petri dan kamar hitung.
Terdapat dua kelompok alat-alat ukur yang digunakan pada analisa kuantitatif, yaitu: Alat-alat yang teliti (kuantitatif) dan alat-alat yang  tidak teliti (kualitatif). Untuk alat-alat yang teliti (kuantitatif) terdiri dari : buret, labu ukur, pipet. Sedangkan untuk alat-alat yang tidak teliti (kualitatif) terdiri dari gelas ukur, erlenmeyer, dan lainnya. Dalam prakteknya baik analisa maupun sintesa, sesorang yang mempelajari atau menekuni bidang kimia pasti akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat dan bahan kimia.
Pada umumnya laboratorium itu mempunyai fungsi sebagai sarana atau tempat untuk mengadakan kegiatan-kegiatan pengujian, pengamatan, pengkajian, pengukuran, dan pengembangan terhadap gejala-gejala, perilaku, sifat-sifat dan penerapan atau penggunaan unsur-unsur seperti alat, komponen dan sistem elektrikan (Ramli, 2002). Karena pentingnya pengenalan alat ini maka setiap praktikan diwajibkan mengetahui dan memahami cara kerja dan fungsi dari alat-alat yang ada di laboratorium.
Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya, dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna, kebersihan alat yang digunakan dan ketelitian praktikan dalam perhitungan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam suatu praktikum, dengan ketelitian dan ketepatan penggunaan alat maka kesalahan dalam praktikum dapat diminimalisir (Riadi, 1990). Maka, dari penjelasan yang telah diuraikan diatas, dalam pelaksanaannya diharapkan kita dapat melakukan percobaan dengan baik, dimana selain memperkenalkan alat dan fungsinya kita juga harus mengetahui cara kerja dan sistematika penggunaan alat-alat tersebut secara tepat dan akurat, karena dengan mengetahui sistematika atau langkah-langkah penggunaan alat akan membuat praktikan tahu bagaimana mengatasi kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi pada alat saat kita melakukan percobaan dilaboratorium (Mardani, 2007).





III.   PELAKSANAAN PRATIKUM




A.      Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Fisika, Jurusan Ilmu Tanah pada pukul 13.00 WIB, dan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman pada pukul 14.00 WIB.



B.       Cara Kerja
Pertama-tama diperkenalkan alat-alatnya di Laboratorium Fisika Jurusan Tanah, Kemudian dilanjutkan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.










IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN




1.    Mikroskop Steril










Mikroskop steril berfungsi melihat objek yang membutuhkan tidak terlalu besar. Di laboratorium Mikrobiologi, mikroskop stereo biasanya digunakan untuk mengamati secara detail bentuk koloni dan jamur. Mikroskop stereo ini juga digunakan untuk melihat benda-benda yang berukuran relatif agak besar. Mikroskop stereo ini punya perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini juga akan terlihat secara tiga dimensi. Beberapa perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah sebagai berikut :
a. Ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
 mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda
 yang diamati.
b.   Sumber  cahaya   berasal  dari  atas sehingga  objek yang tebal  dapat diamati



2.    Autoklaf










Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang sama, endospora dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel vegetatif bakteri tersebut. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C.Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 °C. Jika objek yang disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit.


3.    Inkubator







Incubator adalah alat pengontrol temperatur, kelembaban, dan kondisi lainnya yang memungkinkan untuk pertumbuhan kultur mikrobiologi. Inkubator yang paling sederhana dapat berupa kotak isolasi dengan pemanas yang dapat dikontrol, biasanya dengan suhu antara 60-65 oC (140-150 oF), ada pula yang dapat mencapai suhu lebih dari itu namun tidak lebih dari 100 oC. Kemampuan inkubator lainnya adalah dapat digunakan untuk penyimpanan pada temperatur rendah (biasanya digantikan dengan refrigerator) atau dapat pula sebagai kontrol kelembaban atau tingkat CO2. Sebagian besar inkubator memiliki timer. Kelemahan inkubator adalah pada saat penggunaan kelembaban karena seringkali terkontaminasi oleh fungi. Pencucian ulang bagian dalam inkubator dengan alkohol, zefiran, tembaga sulfat, dan deterjen dapat mengkontrol kontaminasi hanya beberapa saat saja. Fumigasi dengan formalin, walaupun efektif, namun meninggalkan bekas formaldehid yang sulit dihilangkan dan dapat diabsorbsi oleh media dalam cawan petri.


4.    Colony Counter









Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan karena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat di-reset.





5.    Mikro pipet







Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 µl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1µl sampai 20 µl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 µl. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip.








6.    Laminar Flow







Laminar Flow (LF) berfungsi sebagai alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena laminar mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran  udara sehingga menjadi steril dan aplikasi sinar uv beberapa jam sebelum dipakai. Prinsip penaseptisan suatu ruangan berdasarkan aliran udara keluar dengan kontaminasi udara dapat diminimalkan.









7.    Centrifuge







Centrifuge berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk memisahkan senyawa dengan berat molekul yang berbeda dengan memanfaatkan sentrifuge.












8.        Tabung Reaksi









Di dalam mikrobiologi tabung reaksi digunakan untuk uji-uji kombinasi dan menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup netral, tutup plastic atau aluminium foil








9.    Beaker Glass








berguna sebagai alat yang memiliki fungsi dapat digunakan reparasi media menampung aquades dan untuk mengaduk, mencampur, dan memanaskan cairan. Serta berfungsi sebagai tempat untuk cairan kimia yang bersifat korosif.















10.              Water bath











Alat ini berfungsi untuk menyimpan media yang masih akan digunakan.











11.    Cawan petri









Cawan Petri atau telepa Petri adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petri plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri. Cawan petri juga dapat digunakan untuk melihat perkecambahan benih atau untuk mengobservasi hewan kecil. Cawan petri dapat digunakan untuk mengkultur bakteri ataupun sebagai display lingkungan tertutup bagi insekta dan pembenihan tanaman. Cawan petri ini terbuat dari polistiren bening dan steril.




V.  KESIMPULAN




Dari praktikum pengenalan alat yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.    Ketelitian dalam pengerjaan suatu percobaan sangat menentukan proses jalannya praktikum yang kondusif.
2.    Pemahaman terhadap alat–alat praktikum bertujuan agar praktikan mengetahui nama alat, bagian alat, fungsi dan cara kerja dari alat tersebut dengan baik.
3.    Kebersihan dan kesterilan alat praktikum sangat menentukan hasil dari praktikum.
4.    Penggunaan alat-alat gelas haruslah sesuai dengan fungsinya agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan tepat.
5.    Pembagian alat kuantitatif dan kualitatif bertujuan membedakan mana alat yang menggunakan tingkat ketelitian.
























DAFTAR PUSTAKA




Ginting, Tjumin. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.

Setiawati, M. S. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.

Setiawati, M. S (2). 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Indralaya: Laboratorium Dasar Bersama Universitas Sriwijaya.

(Moningka, 2008)

(Ramli, 2002)

(Riadi, 1990)

(Mardani, 2007)

IBRAHIM WAHID
AKTIVIS KAMMI AL-QUDS UNSRI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar