Rabu, 21 Maret 2012

CURAH HUJAN


I.  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada  musim kemarau, hujan selalu ditunggu- tunggu kedatangannya, karena hujan adalah unsure cuaca atau iklim yang penting. Dengan adanya hujan maka persediaan air di permukaan tanah akan bertambah sehingga kebutuhan air akan terpenuhi. Hujan berasal dari penguapan baik dari perairan atau tanaman yang kemudian mengalami pengangkatan dan terjadilah pendinginan. Dengan adanya pendinginan maka uap air akan berubah menjadi titik- titik air yang disebut dengan proses kondensasi. Apabila jumlahnya suadah banyak maka siap turun ke permukaan tanah sebagai hujan.
Jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan tanah dinyatakan dalam satuan millimeter. Jumlah curah hujan 1 mm menunjukkan tebal air hujan yang jatuh di permukaan tanah 1 mm, jika ir tersebut meresap ke dalam tanah atau menguap ke atmosfer.
Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga.
Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.
Data-data yang lengkap dan akurat tersebut hanya bisa didapatkan dengan cara melakukan pengamatan langsung. Tentu saja dibantu dengan beberapa alat meteorologi yang mempunyai fungsi dan tugas tertentu. Dalam pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan alat khusus tentunya dibutuhkan suatu keahlian menggunakan alat agar data yang diambil lebih akurat dan valid. 
Alat untuk mengukur curah hujan terdapat dua jenis yaitu penakar curah hujan otomatis dan penakar curuh hujan manual. Penakar curah hujan manual contohnya adalah observatorium , sedangkan contoh penakar curah hujan otomatis adalah tipe hellman, tipe tilting siphon, tipe bendix, dan Tipping Bucket Penakar hujan ini termasuk jenis penakar hujan non-recording atau tidak dapat mencatat sendiri. Bentuknya sederhana, terdiri dari : Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alat, bak tempat penampungan air hujan, kaki yang berbentuk tabung silinder, gelas penakar hujan.

B. Tujuan
            Untuk mengetahui prinsip penggunaan alat panakar cuarah hujan tipe manual yaitu observatorium secara detail dan benar sehingga kesalahan dalam penggunaan dapat diminimalisirkan seminim mungkin. Untuk mengetahui fungsi- fungsi alat tersebut dan untuk mengetahui jenis- jenis alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan. Mengamati penempatan tata letak alat-alat meteorologi pertanian di stasiun agroklimat. Melakukan perhitungan atau pembacaan skala pada alat-alat meterologi tersebut.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga.  ( Handoko, 2000)
Pada  musim kemarau, hujan selalu ditunggu- tunggu kedatangannya, karena hujan adalah unsure cuaca atau iklim yang penting. Dengan adanya hujan maka persediaan air di permukaan tanah akan bertambah sehingga kebutuhan air akan terpenuhi. Hujan berasal dari penguapan baik dari periran atau tanaman yang kemudian mengalami pengangkatan dan terjadilah pendinginan. Dengan adanya pendinginan maka uap air akan berubah menjadi titik- titik air yang disebut dengan proses kondensasi. Apabila jumlahnya suadah banyak maka siap turun ke permukaan tanah sebagai hujan.
Jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan tanah dinyatakan dalam satuan millimeter. Jumlah curah hujan 1 mm menunjukkan tebal air hujan yang jatuh di permukaan tanah 1 mm, jika ir tersebut meresap ke dalam tanah atau menguap ke atmosfer. (Sudira Putu, 1999)
Data-data yang lengkap dan akurat tersebut hanya bisa didapatkan dengan cara melakukan pengamatan langsung. Tentu saja dibantu dengan beberapa alat meteorologi yang mempunyai fungsi dan tugas tertentu. Dalam pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan alat khusus tentunya dibutuhkan suatu keahlian menggunakan alat agar data yang diambil lebih akurat dan valid. 
Alat-alat ini ditempatkan di suatu tempat tertentu yang memenuhi setiap persyaratan yang wajib dipenuhi dari alat-alat tersebut yang selanjutnya dapat kita istilahkan sebagai stasiun agroklimat. Selanjutnya alat-alat ini akan bekerja mencatat setiap data yang diperlukan seperti sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik dalam suatu periode tertentu . (Lakitan Benyamin,2002)
Alat pengukur atau penakar hujan adalah ombrometer yang dibagi menjadi dua jenis berdasarkan keunggulan kerjanya yaitu ombrometer otomatis dan manual. Alat-alat ini digunakan pada stasiun dan laboratorium. Secara umum prinsip pengukuran hujan yaitu dengan mengukur tinggi air hujan yang jatuh pada permukaan horisontal berupa alat penakar hujan. Cara penggunaan Ombrometer manual adalah  dengan menampung hujan yang terjadi kemudian pada setiap jam pengamatan alat dilepas dan air hujan ditakar dengan menggunakan gelas ukur. Prinsip kerja alat manual ini adalah menghitung besar air yang tertampung pada alat dan diukur dengan gelas ukur. Pengukuran dengan ombrometer manual dilakukan setiap hari jam 07.00 pagi.
Penakar hujan ini termasuk jenis penakar hujan non-recording atau tidak dapat mencatat sendiri. Bentuknya sederhana, terdiri dari :
·         Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alat.
·         Bak tempat penampungan air hujan.
·         Kaki yang berbentuk tabung silinder.
·         Gelas penakar hujan.
Ombrometer dipasang di tanah lapang dan sebaiknya tegak lurus di atas kayu dengan pondasi kuat dan permukaan corong rata (datar). Ombrometer otomatis letaknya lebih rendah dari manual. Curah ujan diukur setiap jam 7 pagi dengan mengamati gelas ukur. Angka kurang dari 0,5 mm dibulatkan ke bawah dan jika > atau = 0,5 mm dapat dianggap nol.
Ombrometer manual mempunyai beberapa kerugian, antara lain pada waktu hujan lebat, kemungkinan air akan meluber sehingga hasil pengukuran tidak menunjukkan pengukuran sebenarnya,sejumlah air di dalam tabung kemungkinan bukan berasal dari air hujan tetapi dari kondensasi,serta intensitas hujan tidak dapat diukur. Penakar hujan yang baku digunakan di Indonesia adalah tipe observatorium. Semua alat penakar hujan yang beragam bentuknya atau yang otomatis dibandingkan dengan alat penakar hujan otomatis (OBS).
 Penakar hujan OBS adalah manual. Jumlah air hujan yang tertampung diukur dengan gelas ukur yang telah dikonversi dalam satuan tinggi atau gelas ukur yang kemudian dibagi sepuluh karena luas penampangnya adalah 100 cm sehingga dihasilkan satuan mm. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari. Hujan yang diukur pada pagi hari adalah hujan kemarin bukan hari ini.( Sofendi,2000)
Selain itu ada jenis penakar curah hujan atau alat pengukur curah hujan yaitu Penakar hujan Hellman alat ini merupakan penakar hujan otomatis dengan tipe siphon. Bila air hujan terukur setinggi 10 mm, siphon bekerja mengeluarkan air dari tabung penampungan dengan cepat, kemudian siap mengukur lagi dan kemudian seterusnya. Di dalam penampung terdapat pelampung yang dihubungkan dengan jarum pena penunjuk yang secara mekanis membuat garis pada kertas pias posisi dari tinggi air hujan yang tertampung. Bentuk pias ada dua macam, harian dan mingguan. Pada umumnya lebih baik menggunakan yang harian agar garis yang dibuat pena tidak terlalu rapat ketika terjadi hujan lebat. Banyak data dapat dianalisadari pias, tinggi hujan harian, waktu datangnya hujan, derasnya hujan atau lebatnya hujan per satuan waktu.( Haryono, 2001)
Penakar hujan Bendix
Penakar hujan otomatis, prinsip secara menimbang air hujan yang ditampung. Melalui cara mekanis timbangan ini ditransfer ke jarum petunjuk berpena di atas kertas pias.
Penakar hujan Tilting Siphon
Prinsip alat, air hujan ditampung dalam tabung penampung. Bila penampung penuh, tabung menjadi miring dan siphon mulai bekerja megeluarkan air dari dalam tabung. Setiap pergerakan air dalam tabung penampung tercatat pada pias sama seperti alat penakar hujan otomatis lainnya.
Penakar hujan Tipping Bucket
Prinsip alat, air hujan ditampung pada bejana yang berjungkit. Bila air mengisi bejana penampung yang setara dengan tinggi hujan 0,5 mm akan berjungkit dan air dikeluarkan. Terdapat dua buah bejana yang saling bergantian menampung air hujan. Tiap gerakan bejana berjungkit secara mekanis tercapat pada pias atau menggerakkan counter (penghitung). Jumlah hitungan dikalikan dengan 0,5 mm adalah tinggi hujan yang terjadi. Curah hujan di bawah 0,5 mm tidak tercatat.( Sarwono, 1993)
Semua alat penakar hujan di atas harus diperhatikan penempatannya di lapangan terbuka bebas dari halangan. Alat yang teliti dengan menempatkan yang salah akan mengukur besaran yang salah pula. Alat yang otomatis, pemeliharaannya harus lebih intensif.
Keadaan alat baik yang manual ataupun yang otomatis harus diperiksa dari kebocoran, saluran penampung yang tersumbat kotoran, tinta pena jangan sampai kering dan jam pemutar silinder pias dalam keadaan berjalan dengan baik.
Jenis-jenis hujan berdasarkan terjadinya
1.Hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.
2.Hujan zenithal, yaitu hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator,akibat pertemuan Angin Pasat Timur Laut dengan Angin Pasat Tenggara. Kemudian angin tersebut naik dan membentuk gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuator yang berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah hujan.
3.Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena angin yang mengandung uap air yang bergerak horisontal. Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan.
4.Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut bidang front. Karena lebih berat massa udara dingin lebih berada di bawah. Di sekitar bidang front inilah sering terjadi hujan lebat yang disebut hujan frontal.
5.Hujan muson atau hujan musiman, yaitu hujan yang terjadi karena Angin Musim (Angin Muson). Penyebab terjadinya Angin Muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan Matahari antara Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan. Di Indonesia, hujan muson terjadi bulan Oktober sampai April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi bulan Mei sampai Agustus. Siklus muson inilah yang menyebabkan adanya musim penghujan dan musim kemarau.
Jenis-jenis hujan berdasarkan ukuran butirnya
1. Hujan gerimis / drizzle, diameter butirannya kurang dari 0,5 mm
2. Hujan salju, terdiri dari kristal-kristal es yang suhunya berada dibawah 0° Celsius
3. Hujan batu es, curahan batu es yang turun dalam cuaca panas dari awan yang suhunya dibawah 0° Celsius
4. Hujan deras / rain, curahan air yang turun dari awan dengan suhu diatas 0° Celsius dengan diameter ±7 mm.
Jenis-jenis hujan berdasarkan besarnya curah hujan
1. hujan sedang, 20 - 50 mm per hari
2. hujan lebat, 50-100 mm per hari
3. hujan sangat lebat, di atas 100 mm per hari





III.  PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari jum’at,  tanggal 27 mei 2011, pukul 17.00 wib – 18.00 wib, dan pada hari sabtu, tanggal 28 mei 2011, pukul 06.00 wib -12.00 wib di Agro Techno Park 1 daerah Gelumbang Sumatera Selatan.

B. Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah pengukuran curah hujan adalah observatorium, tabel pengamatan dan alat-alat tulis. 

C. Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Observatorium dipasang sehari sebelum pengamatan, dan alat ini dipasang pada ketinggian 120 cm dari permukaan tanah.
3. Selanjutnya air yang terdapat dalam corong tersebut dipindahkan ke dalam gelas ukur dengan diameter 100 cm sehingga volume air hujan dapat dihitung.
3. Pengamatan dilakukan secara berkala, setelah pengamatan awal dilakukan pengamatan selanjutnya dilakukan setelah 30 menit pengamatan pertama. Dan dilakukan secara terus-menerus sampai batas waktu yang telah ditentukan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN`
A.  Hasil
Jam
Curah Hujan
(mm)


17.00
-

17.30
-

18.00
-

06.00
21,4

06.30
20

07.00
21

07.30
-

08.00
16,9

08.30
21,4

09.00
21,4

09.30
21,4

10.00
21,4

10.30
21,4

11.00
21,4

11.30
21,4

12.00
21,4



B. Pembahasan
            Kami dari kelompok IV mengambil sampel pengamatan curah hujan pada pukul 06.00       wib, dan pukul 10.00 wib, dan diperoleh hasilnya sebagai berikut jumlah curah hujan pada kedua waktu tersebut sama yaitu 21,4 mm.Semakin deras hujan yang turun maka semakin besar volume curah hujan yang di dapat.Hujan dapat ditimbulkan karena adanya penguapan dari air laur sehingga menimbulkan awan dan terjadi pendinginan, dengan adanya pendinginan tersebut dapat menimbulkan hujan.
            Dalam melakukan pengamatan diperlukan ketelitiaan dalam melihat volume air hujan yang terdapat dalam gelas ukur dan dat yang diperoleh harus benar- benar akurat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam prosedur suatu prcobaan.
Data-data yang lengkap dan akurat tersebut hanya bisa didapatkan dengan cara melakukan pengamatan langsung. Tentu saja dibantu dengan beberapa alat meteorologi yang mempunyai fungsi dan tugas tertentu. Dalam pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan alat khusus tentunya dibutuhkan suatu keahlian menggunakan alat agar data yang diambil lebih akurat dan valid.
 Alat-alat ini ditempatkan di suatu tempat tertentu yang memenuhi setiap persyaratan yang wajib dipenuhi dari alat-alat tersebut yang selanjutnya dapat kita istilahkan sebagai stasiun agroklimat. Selanjutnya alat-alat ini akan bekerja mencatat setiap data yang diperlukan seperti sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik dalam suatu periode tertentu .
Adapun alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan adalah observatorium, prinsip kerja alat ini di pasang pada tempat terbuka dengan sudut 45 0 dari sudut pandang permukaan corong ke sekitarnya, alat ini di pasang pada ketinggian 120 cm dari permukaan tanah hingga mulut corong.
Penakar hujan yang baku digunakan di Indonesia adalah tipe observatorium. Semua alat penakar hujan yang beragam bentuknya atau yang otomatis dibandingkan dengan alat penakar hujan otomatis (OBS). Penakar hujan OBS adalah manual. Jumlah air hujan yang tertampung diukur dengan gelas ukur yang telah dikonversi dalam satuan tinggi atau gelas ukur yang kemudian dibagi sepuluh karena luas penampangnya adalah 100 cm sehingga dihasilkan satuan mm. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari. Hujan yang diukur pada pagi hari adalah hujan kemarin bukan hari ini.
Penakar curah hujan tipe manual mempunyai beberapa kerugian, antara lain pada waktu hujan lebat, kemungkinan air akan meluber sehingga hasil pengukuran tidak menunjukkan pengukuran sebenarnya,sejumlah air di dalam tabung kemungkinan bukan berasal dari air hujan tetapi dari kondensasi,serta intensitas hujan tidak dapat diukur.
Jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan tanah dinyatakan dalam satuan millimeter. Jumlah curah hujan 1 mm menunjukkan tebal air hujan yang jatuh di permukaan tanah 1 mm, jika ir tersebut meresap ke dalam tanah atau menguap ke atmosfer.
Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering.
Dengan adanya hujan maka persediaan air di permukaan tanah akan bertambah sehingga kebutuhan air akan terpenuhi. Hujan berasal dari penguapan baik dari periran atau tanaman yang kemudian mengalami pengangkatan dan terjadilah pendinginan. Dengan adanya pendinginan maka uap air akan berubah menjadi titik- titik air yang disebut dengan proses kondensasi. Apabila jumlahnya suadah banyak maka siap turun ke permukaan tanah sebagai hujan.
Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.
Semua alat penakar hujan di atas harus diperhatikan penempatannya di lapangan terbuka bebas dari halangan. Alat yang teliti dengan menempatkan yang salah akan mengukur besaran yang salah pula. Alat yang otomatis, pemeliharaannya harus lebih intensif.
Keadaan alat baik yang manual ataupun yang otomatis harus diperiksa dari kebocoran, saluran penampung yang tersumbat kotoran, tinta pena jangan sampai kering dan jam pemutar silinder pias dalam keadaan berjalan dengan baik.
Pengukuran air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur untuk mengetahui keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah hujan dan air yang hilang melalui evaporasi. Hujan dipengaruhimoleh keadaan awan , angin dan suhu.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
            Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Hujan merupakan jatuhnya air ke permukaan bumi yang memiliki satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan
2.  Dengan adanya hujan maka persediaan air di permukaan tanah akan bertambah sehingga kebutuhan air akan terpenuhi.
3. Jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan tanah dinyatakan dalam satuan millimeter
4.  Curah hujan tertinggi yang didapat dalam pengamatan yaitu sebesar 21,4 mm
5. Adapun alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan adalah observatorium

B. Saran
Semua alat penakar hujan harus diperhatikan penempatannya di lapangan terbuka bebas dari halangan. Alat yang teliti dengan menempatkan yang salah akan mengukur besaran yang salah pula. Alat yang otomatis, pemeliharaannya harus lebih intensif.
Keadaan alat baik yang manual ataupun yang otomatis harus diperiksa dari kebocoran, saluran penampung yang tersumbat kotoran, tinta pena jangan sampai kering dan jam pemutar silinder pias dalam keadaan berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Handoko. 2000.Klimatologi Dasar. Jakarta : Balai Pustaka
Haryono. 2001.Kamus Geografi. Jakarta : Ghalia Indonesia
Lakitan Benyamin.2002. Penginderaan Jauh Geografi. Bandung : Pakar Raya
Sarwono.1993. Cuaca dan Iklim. Jakarta : Gramedia
Sudira Putu.1999. Pengantar Oseangrfi. Jakarta : Tira Pustaka
Sofendi .2000. Ilmu Geografi. Jakarta : Akademika Pressindo

IBRAHIM WAHID
AKTIVIS KAMMI AL-QUDS UNSRI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar